Postingan

PENGADUAN SANG RAKYAT JELATA

Aku  bukan elitis Aku bukan politikus Bukan provokator yang hebat menarik dan mempengaruhi massa Bukan pemimpin pergerakan ternama Aku tak ingin terlalu banyak bicara Aku hanya merasa selalu ingin mendengar Mendengar keluh kesah sesama teman rakyat jelata Aku tak ingin pula terlalu banyak dilihat Dan tak ingin banyak tampil di muka umum seperti para pemimpinku kini Oh, mungkin juga tidak karna kulihat pemimpinku justru banyak diam Entah diam karna itu sifatnya Atau memang dia terlalu dingin untuk mendengar dan hanya berpaku pada egonya Aku ada di tempat ini karna trima kasihku pada negeri yang telah mendidik dan membesarkanku karna janjiku pada tetuaku untuk menjaga rumah ini membuatnya selalu berjaya bukan lagi bangga atas kejayaan tempo dulu yang telah dibuat para leluhur Aku sangat berhutang budi pada negeri ini yang mendidik dan menempaku menjadi seorang pejuang Pejuang yang ingin mempertahankan kejayaan negerinya Pejuang yang tak ingin negerinya ha...

Idealisme “Bali Ndeso, Mbangun Ndeso” : Masihkah Berlaku di Zaman Sekarang?

Di sebuah daerah di selatan Jawa Tengah, seorang anak menjunjung motivasi besar melanjutkan pendidikannya di sebuah kampus ternama di Kota Kembang. Kampus yang konon katanya menjadi cikal bakal lahirnya para pemimpin idealis bangsa. Hingga akhirnya, suatu ketika semesta merestui kehendaknya. Sebuah status baru tersemat dalam dirinya, status sebagai mahasiswa Ganesha.  Hanya satu angan yang digantung dalam langit asanya, kebanggaan sebagai putra daerah yang suatu saat dapat kembali membangun daerah asalnya. Suatu pengabdian untuk dapat berkontribusi bagi kemajuan daerahnya. Itulah mimpi yang ingin dijaganya. Contoh mimpi dan harapan dari seorang anak yang ingin membangun daerahnya. Akan tetapi masihkah banyak anak-anak daerah lain memiliki mimpi yang sama untuk daerahnya? Masihkah ada cita-cita putra daerah untuk mengabdi bagi daerahnya? Bagi saya, mimpi membangun daerah terlalu mahal saya dapatkan di zaman modern seperti saat ini. Terlebih di benak para mahasiswa, pe...

Politik itu Kejam Tergantung Penguasanya

“Calon KAPOLRI ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK”. Itulah sebuah headline berita di salah satu stasiun TV swasta yang menemani santap sore saya hari ini. Muak rasanya saya sebagai masyarakat terdidik bangsa ini hanya terus mendengar kecemaran para pejabat bangsa ditampilkan secara luas kepada khalayak publik. Pantas saja banyak orang tua tak ingin anaknya masuk ke dunia politik jika yang mereka konsumsi setiap hari hanya tontonan tentang orang-orang terhormat pimpinan negeri ini yang harus berurusan dengan KPK dan berakhir di jeruji besi. Kecuali jika bapak ibunya adalah petinggi partai atau sudah mengenyam karir di dunia politik, tak apalah kalau anaknya menjadi politikus untuk meneruskan generasi politikus di keluarganya. Jika saya saat ini telah menjadi orang tua, saya justru tak ingin menjadi orang tua yang skeptis. Kalau anak saya ingin berkarir di dunia politik, ya silahkan saja. Berkarirlah dengan benar dan takut akan Tuhan. Luruskan tujuan memang untuk menjadi a...

SEPUCUK RINDU UNTUK TERKASIH

Sepi ini mengingatkanku pada kehangatan Untuk mencari celah kembali bersama kalian Ada gelisah yang merasuk Ada resah yang tak terbendung Ada cinta yang tak padam Ada rindu yang tak pernah layu Memori bersama selalu membawa kenangan untuk merindu Serpihan kenangan tentang masa kecil, Remaja hingga kini beranjak dewasa Rasanya ingin aku memeluk kembali kenangan manis itu Membawaku pada waktu saat aku memiliki kalian sepenuhnya Membawaku pada masa manis tanpa air mata Mama, Kutahu ini masa yang berat bagimu melepaskan putri kecilmu Yang kini telah siap menjadi seorang wanita penjagamu Aku selalu dapat membaca sedih bahagiamu Meskipun jarak dan waktu ini terlampau jauh untuk kugenggam dengan tanganku Tapi, rasa cintaku ini akan selalu kau miliki Meskipun ada sosok pria lain yang akan datang menghampirimu Dan memintaku untuk jadi pendampingnya Tapi kini yang kumau Hanya melihat raut wajahmu dan memastikan kau baik – baik saja Tak kuran...

BEKERJA DENGAN NURANI ?

Mata hanya terus bisa melihat Mulut hanya terus berkata Tangan hanya terus menulis dan mengetik Kaki hanya terus melangkah Telinga juga masih saja mendengar Nafas pun mengalir tak lagi memiliki irama Tak peduli polusi apa yang telah meracuninya Pikiran hanya terus memforsir, menginterpretasi setiap arti, dan mencari makna dari tiap ilusi Hingga akhirnya lelah menjadi teman di malam sepi Jenuh menjadi tamu yang datang silih berganti dan keluhan hanya jadi sahabat yang menemani Namun apakah nurani masih merasa Merasakan arti dari setiap gerakan raga ataukah jiwa dan raga tak lagi berintegrasi dalam satu ruang Bagai robot yang dicipta tuk berproduksi Hingga akhirnya diri menyadari Apakah arti keringat dan perasan otak selama ini? Hanyakah demi sodoran misi yang tak tahu arah

KETIKA DIA TAHU YANG TERBAIK

Dia tak pernah menjanjikan selalu ada matahari cerah di pagi hari Kadang, kau melihat langit mendung untuk menyadarkan hidupmu tak selalu diiring tawa bahagia namun ada momen datangnya air mata Satu yang tak pernah diingkari, Dia tetap ada memeluk dan mendampingimu Dia tak pernah menjanjikan jalan aspal yang halus untuk dilalui Terkadang kau harus menempuh jalan bergelombang, berbatu atau berlubang Bukan untuk menyakitimu Namun untuk menyadarkan hidupmu tak selalu aman-aman saja Ada masalah dan rintangan yang harus kau hadapi Tapi ingat satu hal, Dia jauh lebih besar dari setiap persoalanmu Ketika kau meminta padaNya tak selalu Ia kan menyediakan Namun satu yang Dia beri Dia tahu yang terbaik bagimu

Untuk Kita yang Pernah Berjuang Bersama

Aku ingat masa-masa itu Saat kamu dan aku berbagi mimpi tentang suatu dunia di masa depan Mimpi bersama teman dan sahabat kita Mimpi untuk membangun sesuatu yang lebih baik Aku ingat saat kau memintaku untuk membantumu Bagaimanapun kondisinya nanti Entah siapakah nanti yang akan mencapai garis finish Dan memperoleh medali Kita berjanji untuk tak saling meninggalkan Aku ingat betapa berat proses yang kita hadapi Mungkin fisikku dan fisikmu lelah untuk bertahan Tapi dorongan dan semangat dari mereka membuat kita tak henti berjuang Kita berjanji untuk menjunjung tinggi suportivitas Dan jangan biarkan pertemanan kita rusak hanya karna ini Kini, Kau yang telah berhasil mencapai finishnya Mungkin dewi fortuna tak berpihak padaku di pertandingan ini Atau aku bukanlah ahli yang mahir dalam perlombaan ini Kuucapkan selamat padamu wahai kawanku atas kemenanganmu Tak lupa doa kusertakan padamu untuk perjuanganmu selanjutnya Kau harus terus berjua...