Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Peran Pemerintah : Membuat Regulasi vs Menyejahterakan Masyarakat

Akhir-akhir ini, berbagai media televisi nasional dan media sosial sedang marak menyiarkan berbagai kehebohan yang terjadi di negara kita, mulai dari daging sapi yang langka, kurs dollar Amerika yang terus melambung, maupun upaya penggusuran yang sedang gencar dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebagai seorang pengamat yang tidak ikut merasakan dampak dari kondisi tersebut, namun seringkali justru terbawa suasana dengan kondisi tersebut, saya tertarik untuk menulis mengenai berbagai kontemplasi yang saya alami. Apabila melihat berbagai peristiwa yang terjadi di atas, salah satunya mengenai penggusuran permukiman Kampung Pulo yang berada di Bantaran Sungai Ciliwung, maka saya melihat dua pihak utama yang sedang beradu, pemerintah vs masyarakat. Mengapa saya bilang beradu? Karena saat ini mereka sedang memiliki preferensi yang berbeda dan bertahan dengan arogansi keinginan masing-masing. Pemerintah ingin menggusur masyarakat yang melakukan pelanggaran dengan membangun p

MENJADI MANUSIA LICIK

Langkah kakiku malam ini di kesunyian kampus membawaku pada satu perenungan besar. Apa yang sudah kudapatkan 3 tahun lebih berada di kampusku? Apa yang telah tertanam dalam diriku setiap hari yang kulalui dari masa TPB hingga aku pada fase mengerjakan Tugas Akhir seperti sekarang. Hanya satu jawaban yang langsung terlontar dari otakku. Aku hanya belajar MENJADI MANUSIA LICIK. Entah ini salah atau benar. Tapi hanya itu semua yang tiba-tiba terlintas dalam pikiranku. Aku mendapati kondisi dimana diriku dihadapkan pada berbagai permainan, konspirasi, negosiasi, praktik lobby-lobby dan berbagai hal lain selama aku menjadi mahasiswa disini. Mungkin tak salah semua praktik itu. Aku mulai bernegosiasi dengan diriku sendiri. Karna hidup ini bukannya juga selalu berhadapan dengan proses politik. Jarang sekali ketulusan itu ada dalam setiap pemaknaan hidup. Berteman karna suatu kepentingan, entah menghilangkan kesepian, memanfaatkan ketenaran teman, memanfaatkan kepandaian ataupun s

PENGADUAN SANG RAKYAT JELATA

Aku  bukan elitis Aku bukan politikus Bukan provokator yang hebat menarik dan mempengaruhi massa Bukan pemimpin pergerakan ternama Aku tak ingin terlalu banyak bicara Aku hanya merasa selalu ingin mendengar Mendengar keluh kesah sesama teman rakyat jelata Aku tak ingin pula terlalu banyak dilihat Dan tak ingin banyak tampil di muka umum seperti para pemimpinku kini Oh, mungkin juga tidak karna kulihat pemimpinku justru banyak diam Entah diam karna itu sifatnya Atau memang dia terlalu dingin untuk mendengar dan hanya berpaku pada egonya Aku ada di tempat ini karna trima kasihku pada negeri yang telah mendidik dan membesarkanku karna janjiku pada tetuaku untuk menjaga rumah ini membuatnya selalu berjaya bukan lagi bangga atas kejayaan tempo dulu yang telah dibuat para leluhur Aku sangat berhutang budi pada negeri ini yang mendidik dan menempaku menjadi seorang pejuang Pejuang yang ingin mempertahankan kejayaan negerinya Pejuang yang tak ingin negerinya hancur

Idealisme “Bali Ndeso, Mbangun Ndeso” : Masihkah Berlaku di Zaman Sekarang?

Di sebuah daerah di selatan Jawa Tengah, seorang anak menjunjung motivasi besar melanjutkan pendidikannya di sebuah kampus ternama di Kota Kembang. Kampus yang konon katanya menjadi cikal bakal lahirnya para pemimpin idealis bangsa. Hingga akhirnya, suatu ketika semesta merestui kehendaknya. Sebuah status baru tersemat dalam dirinya, status sebagai mahasiswa Ganesha.  Hanya satu angan yang digantung dalam langit asanya, kebanggaan sebagai putra daerah yang suatu saat dapat kembali membangun daerah asalnya. Suatu pengabdian untuk dapat berkontribusi bagi kemajuan daerahnya. Itulah mimpi yang ingin dijaganya. Contoh mimpi dan harapan dari seorang anak yang ingin membangun daerahnya. Akan tetapi masihkah banyak anak-anak daerah lain memiliki mimpi yang sama untuk daerahnya? Masihkah ada cita-cita putra daerah untuk mengabdi bagi daerahnya? Bagi saya, mimpi membangun daerah terlalu mahal saya dapatkan di zaman modern seperti saat ini. Terlebih di benak para mahasiswa, persai

Politik itu Kejam Tergantung Penguasanya

“Calon KAPOLRI ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK”. Itulah sebuah headline berita di salah satu stasiun TV swasta yang menemani santap sore saya hari ini. Muak rasanya saya sebagai masyarakat terdidik bangsa ini hanya terus mendengar kecemaran para pejabat bangsa ditampilkan secara luas kepada khalayak publik. Pantas saja banyak orang tua tak ingin anaknya masuk ke dunia politik jika yang mereka konsumsi setiap hari hanya tontonan tentang orang-orang terhormat pimpinan negeri ini yang harus berurusan dengan KPK dan berakhir di jeruji besi. Kecuali jika bapak ibunya adalah petinggi partai atau sudah mengenyam karir di dunia politik, tak apalah kalau anaknya menjadi politikus untuk meneruskan generasi politikus di keluarganya. Jika saya saat ini telah menjadi orang tua, saya justru tak ingin menjadi orang tua yang skeptis. Kalau anak saya ingin berkarir di dunia politik, ya silahkan saja. Berkarirlah dengan benar dan takut akan Tuhan. Luruskan tujuan memang untuk menjadi a