Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

KEMAHASISWAAN ITB DARI SUDUT PANDANG SEORANG SENATOR

Gambar
Sosok yang ingin penulis kenalkan kali ini adalah senator Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika (TERRA), Rama. Menurutnya, kemahasiswaan sekarang lebih bergerak sesuai keilmuan masing-masing meskipun ada gerakan untuk bekolaborasi antarkeilmuan namun tetap saja ada upaya untuk menjaga gerakan sesuai keilmuan masing-masing. Padahal mahasiswa jurusan bisa membuat karya, baik gerakan/aksi, produk, ataupun pengabdian masyarakat serta sikap yang tidak terbatas pada keilmuan mereka saja. Misalnya, himpunan dapat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya bergerak sesuai keilmuan mereka yang terpenting adalah tujuan untuk berbagi manfaat ke masyarakat dengan ikhlas. Jangan sampai motivasi untuk membantu terbatas dengan bidang keilmuan mahasiswa. Kemudian mengenai kondisi kemahasiswaan sekarang, menurutnya mahasiswa sekarang adalah mahasiswa yang benefit oriented dan study oriented . Hanya sedikit mahasiswa yang memiliki keinginan untuk berpartisipasi menyuarakan aspirasi

KEMAHASISWAAN ITB DI MATA NYOMAN ANJANI: SANG PEMIMPIN PERGERAKAN MAHASISWA ITB

Gambar
Siapa yang tidak mengetahui sosok Nyoman Anjani. Hampir seluruh mahasiswa Kampus Ganesha telah mengenal sosok wanita cantik ini entah berpapasan langsung di kampus atau melihatnya tampil dalam forum-forum KM ITB. Bahkan soosknya telah dikenal oleh khalayak luas di berbagai kampus di Indonesia. Konon kabarnya, menurut salah satu artikel di media sosial, Nyoman sempat mendapat sebutan sebagai Ketua BEM tercantik di Indonesia. Namun ternyata bukan hanya kecantikan fisik yang miliki, akan tetapi banyak hal menarik yang tersimpan dalam pribadi sang K3M ITB saat ini (periode 2013/2014). Jumat, 14 Februari 2014 di sela-sela kesibukan akademiknya sebagai mahasiswa Tingkat Akhir, penulis mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok Nyoman. Beliau merupakan sosok yang ramah sekalipun beliau tidak begitu mengenal dekat penulis. Penulis ingat saat secara tidak sengaja berpapasan dengan beliau pada hari Kamis malam dan mengajak beliau untuk berbincang secara personal. Beliau langsung

KEMAHASISWAAN ITB DARI SUDUT PANDANG SEORANG KETUA HIMPUNAN

Himpunan menurut Nyoman adalah salah satu basis pendukung KM ITB. Gerakan KM ITB sangat dibantu oleh keberadaan himpunan karena mereka dapat memberikan aspirasi bagi keberjalanan KM ITB dan mempengaruhi pergerakan kampus yang dinamis. Namun belum tentu keinginan dari kabinet ini terealisasikan dengan baik sehingga membentuk suatu sistem organisasi yang ideal di KM ITB. Banyak himpunan yang memiliki fokus pergerakan masing-masing, ada yang ingin bergerak secara internal untuk memperbaiki kondisi di dalam himpunan namun ada juga yang telah sadar bergerak ke sisi eksternal dan membantu KM ITB, serta fokus-fokus lain yang dimiliki himpunan. Saat ini penulis ingin membahas peran dua himpunan di ITB berdasarkan sudut pandang masing-masing ketua himpunan. Pertama, penulis ingin membahas kondisi kemahasiswaan ITB dari kacamata IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) dan partisipasinya di terpusat KM ITB. Menurut Kemal, yang saat ini mendapat amanah sebagai ketua IMG ITB, kemahasiswaan dalam pan

MELIHAT JAKARTA DARI DUA SISI : PENGUASA DAN MASYARAKAT

Jakarta, metropolitan yang selalu penuh dengan pergerakan dan kegiatan 24 jam setiap hari.   Pusat dari segala kepentingan berbagai pihak yang mencoba tantangan, pembelajaran dan keuntungan. Disanalah kontrol dan pengawasan terbesar terhadap Indonesia berada. Pusat keberjalanan kekuasaan petinggi-petinggi negara yang menjadi pengambil keputusan atas negara ini. Bahkan aliran uang negara ini, 90% terpusat di ibukota negara. Suatu angka yang cukup fantastis. Indonesia yang terkenal sebagai negara kepulauan dan berpuluh-puluh provinsi serta beratus-ratus kota yang tersebar di seluruh Nusantara namun kesenjangan ekonomi terasa sangat jauh antara kehidupan di metropolitan dan kota-kota lain di pelosok. Entah apakah daya tarik Jakarta bagi banyak kaum pendatang dan investor yang mencoba peruntungan disana. Namun penulis melihat daya tarik tersebut sungguh berkontradiksi dengan kehidupan sebagian besar masyarakat Jakarta. Ekonomi yang terpusat di Jakarta belum tentu menunjukkan kesejah