Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

MANUSIA BERKEPALA DUA

Jika Indonesia memiliki momen bersejarah dalam hidupnya pada 17 Agustus 1945, maka aku menetapkan 6 Februari 1994 sebagai momen paling bersejarah dalam hidupku. Karena tepat pada tanggal tersebut seorang bayi mungil memperoleh kemerdekaan dari rahim ibunya. Untuk pertama kali, sang bayi, yang tak lain adalah aku, menghirup udara kebebasan di dunia. Dan kini, di tahun 2014, bayi perempuan itu telah berubah menjadi seorang perempuan. Perempuan yang telah memiliki usia cukup matang. Ya, 20 tahun. Bagiku, 20 tahun adalah titik balik dalam hidupku. Usia dimana aku tak lagi menjadi anak kecil dan remaja manja yang selalu meminta serta bergantung kepada orang tua atau orang-orang di sekitarnya. Kalau kata orang, aku telah menjadi seorang manusia kepala dua. Menurut definisiku, manusia berkepala dua adalah manusia yang telah mampu memilih jalan hidupnya sendiri. Memecahkan tiap masalah yang dihadapi dan bergantung pada kemampuannya. Apabila dulu aku hanya berpikir tentang hari ini

REVOLUSI MENTAL

(Tulisan ini BUKAN TENDENSI penulis semata terhadap salah satu calon presiden. Penulis hanya mengungkapkan curahan pemikiran terkait fenomena kata "Revolusi Mental" yang akhir-akhir ini kerap digunakan oleh masyarakat kita) Revolusi Mental. Menurut saya, kata ini cukup cetar membahana dampaknya di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak pengguna akun sosial media pun menggunakan kata-kata ini. Entah yang menjadi pendukung salah satu calon presiden atau pendukung calon presiden lain yang mengkritik fenomena kata ini. Tapi, sebelumnya saya mengapresiasi usaha Bapak Capres No 2 beserta tim atas kreativitasnya menemukan kata ini (karena budaya apresiasi di negara ini semakin berkurang yanga da hanya gunjingan dan kritikan pedas tak membangun). Dan perlu diingat saya disini HANYA MENGAPRESIASI dan BELUM PASTI MENDUKUNG atau menjadi tim sukses. Kita sadari atau tidak sebenarnya pembentukan karakter atau mental baru bagi masyarakat Indonesia menjadi suatu isu yang sangat pent

TANAH INI MILIK SIAPA? TANAH INI UNTUK SIAPA?

"Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat." (UUD RI 1945, pasal 33 ayat 3) Sungguh hebat kata-kata dalam landasan negara kita tersebut. Toh, memang bukannya sudah sewajarnya berlaku demikian bahwa kekayaan negara ini untuk kemakmuran rakyatnya. Bukankah itu merupakan salah satu tujuan suatu negara ini ada. Mencerdaskan kesejahteraan umum. Yang tak lain adalah kesejahteraan rakyatnya. Namun apakah benar realita yang ada juga berlaku demikian? Benarkah rakyat kita telah sejahtera karena dapat memanfaatkan kekayaan alam bangsanya? Dapatkah mereka menggunakan tanah di bumi pertiwi ini? Saya rasa tidak. Mengapa? Masih perlukah kalian bukti kekurangan kesejahteraan rakyat negeri kita? Ataukah kalian yang merasa selama ini hidup dalam suasana berkecukupan bahkan bergelimangan tak lagi memiliki empati atau bahkan sekedar simpati pada kehidupan sekitar. Lihatlah di kota-kota

DOA, PANGGILAN KERINDUAN ATAUKAH RUTINITAS SEMATA?

Tulisan ini terinspirasi dari ibadah saya hari ini. Ibadah dengan nuansa berbeda dan baru pertama saya rasakan. Di saat saya untuk pertama kalinya jauh dari keluarga dan teman untuk beribadah bersama. Saya bukan orang yang cukup agamis mungkin untuk membuat tulisan seperti ini. Tapi ada kegelisahan yang saya rasakan sehingga ada rasa yang ingin dibagi. Terima kasih sebesar-besarnya untuk Tuhan hari ini yang mengajarkan dan menegur banyak hal pada saya melalui salah seorang umatNya. Tertantang untuk menulis tentang makna doa. Bukan karena saya merasa diri menjadi seorang wanita kristen solehah yang rajin berdoa. Saya hanya ingin menjawab pertanyaan diri tentang makna doa. Setiap agama yang saya tahu, pasti mengajarkan umatNya untuk selalu berkomunikasi dengan Sang Penciptanya lewat cara masing-masing. Umat Muslim menjalankan sholat 5 waktu dan pergi ke masjid, umat Kristiani berkomunikasi melalui doa yang ia naikkan setiap hari atau momen saat dan ibadah di gereja, umat Hin

BURUH BIROKRASI

Tulisan ini muncul dari pemikiran semata setelah berdiskusi dengan seorang senior yang mengkritik birokrat akibat status yang saya post. Menurut KBBI, bi·ro·krat n 1 pegawai yg bertindak secara birokratis; 2 seorang yang menjadi bagian dari birokrasi Menurutku, bi·ro·krat n 1 pelayan masyarakat ; 2 buruh sistem birokrasi negara   Dalam suatu forum kegiatan yang kerap menjadi rutinitas saya dulu, KBBI bagaikan kitab pemaknaan saya. Dulu ia sangat saya agungkan. Begitu pula partner saya menamai saya "KBBI Berjalan". Menurut saya, konten KBBI adalah suatu kebenaran dari seorang ahli yang dapat dipercaya. Sehingga masyarakat awam dapat memakainya.  Namun, kini saya merasa tak selamanya pekmanaan KBBI selalu benar. Kebenaran definisi bukan lagi menjadi suatu hal mutlak. Saya dapat mencari makna dari tiap kata dalam hidup. Termasuk saat ini saya dapat menemukan definisi birokrat menurut saya. Buruh dari peradaban sistem birokrasi negeri ini. Itulah pemak

Penantian Sang Gadis Berlayar

Disini Di pinggir pelabuhan yang ramai penuh orang lalu lalang Sang gadis menunggu Menunggu dalam sepi sendirinya Menunggu kapal yang berlabuh untuk ia naiki Semenjak sang fajar terbit dari ufuk timur hingga menenggelamkan sinarnya di sisi barat tak kunjung juga datang kapal yang dinantinya Meskipun telah banyak kapal berlabuh dan beberapa siap memberikan tumpangan baginya Namun... Bukan kapal-kapal itu yang diinginkan Dia menanti sosok sang nahkoda Dia percaya bahwa sang nahkoda akan datang padanya dan menawarinya untuk berlayar di bahtera kapal besarnya mengarungi samudra luas dan menerjang ombak ganas Entah sampai kapan sang gadis akan terus menunggu Tapi hanya itu harapannya dan dia tak mau menghapus setiap harapan dalam nuraninya Meski banyak kapal lebih megah menawari untuk berlayar bersama mereka tapi tak satupun dia acuhkan karna dia merasa cemas orang-orang di kapal tak menerimanya dan dia tak bisa memahami budaya orang di kapal Hingga kini sang g

BERSYUKUR

Hidup bagaikan menaiki sebuah komedi putar Kadang kita berada di atas Kadang pula kita berada di bawah Tatkala di atas Rasanya begitu dekat dengan langit Padahal kita tak pernah tahu di atas langit masih ada langit Udara bertiup dengan sejuk menerpa kita Memandang keindahan di sekeliling kita Yang takkan pernah bisa dinikmati orang yang ada di bawah Serasa hidup dalam kedamaian Begitulah kondisi kita bak orang yang sedang diberkati berlimpah Tapi tahukah Saat di atas guncangan dan bahaya akan lebih terasa Sebenarnya kita tak benar-benar dalam kondisi aman Namun kita kurang menyadari, Semua kehidupan ada masanya Saat mesin komedi putar kembali dihidupkan, Kita dapat beralih ke bawah Mungkin pemandangannya tak seindah saat kita di atas Namun resiko kecelakaan kita lebih rendah Dan kita dapat merasa lebih aman Akan tetapi Tak banyak orang mensyukuri sisi lain kondisi yang ada di bawah Mereka justru iri dengan orang-orang yang ada di

ANAK REFORMASI

1998. Suatu masa dimana rezim pemerintahan selama lebih dari 30 tahun di negeri ini digulingkan. Entah benar-benar karena perjuangan para mahasiswa kah atau adanya konspirasi dari beberapa petinggi negara yang menginginkan sang pemimpin turun dari tahtanya untuk mengincar kekuasaan tersebut. Teriakan para mahasiswa mengguncang ibukota negara. Demonstran meminta sang penguasa orde baru lengser dari kursi kekuasaan. Kerusuhan pun melanda berbagai tempat. Entah darimana asalnya para pengrusak. Mereka datang menghancurkan berbagai bangunan komersial. Sang jago merah berkobar di seluruh wilayah ibukota. Korban pun tak terelakkan. Dan kebanyakan adalah para etnis Tionghoa. Mereka dibunuh, dibakar, toko-toko dan rumah mereka dirusak serta dijarah. Para istri dan anak perempuan diperkosa dan mengalami kekerasan seksual. Sungguh trauma yang sulit dihilangkan dalam ingatan setiap insan etnis Tionghoa. Negeri yang katanya memiliki semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" justru tega mel

PLURALISME

Gambar
Perkenalkan. Aku Valen. Warga Negara Indonesia. Gadis keturunan Jawa asli. Silsilah keluargaku pun berdarah murni Jawa. Tidak ada campuran dari suku lain. Entah itu memang sudah menjadi takdir jodoh dari setiap anggota keluarga besarku. Ataukah ada faktor pilihan lain, aku pun tak tahu. Aku telah menikmati 17 tahun kehidupanku di suatu kota kecil (meskipun kini telah berkembang menjadi kota besar semenjak kepemimpinan sosok orang yang kini menjadi capres) bernama Solo. Aku telah mengenal lekat budaya Jawa dalam hidupku semenjak kecil, mulai dari tutur kata, etika berperilaku hingga setiap kearifan lokal Jawa. Kedekatanku dengan budaya Jawa sejak lahir membuatku sangat mencintai budaya Jawa dan berniat selalu melestarikan budayaku ini. Namun, ternyata Tuhan membuka jalanku untuk mengenal berbagai budaya lain di negeriku. 17 tahun kenikmatan hidup di Solo harus kutinggalkan. Aku pun hidup menjadi seorang perantau dan harus merelakan berpisah dari kehangatan keluargaku. Pada usiaku