Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

MENUJU MANUSIA SEPEREMPAT ABAD

Di balik jendela kereta sore ini Aku menatap hamparan bukit kapur, jembatan dan rerumputan hijau terbentang didepanku Begitu banyak cerita yang ingin kubagi denganmu Tapi sayang tak kudapati dirimu disampingku Hanya sekerumunan orang   lainyang sekejap datang dan pergi tanpa aku kenal Lalu aku berusaha mengusir sepiku Dengan menggali dalam ingatan tentang suatu masa Saat kita sedang berbincang   hangat ditemani kopi tubruk Bali Kintamani kesukaanmu dan es kopi susu favoritku Aku mulai bertanya dengan pelan padamu Sayang, apakah kamu bahagia dengan hidupmu saat ini? Kulihat kau dengan yakin mengangguk dan mengatakan ‘iya’ Tampak jelas kejujuranmu saat kulihat kedua bola matamu yang berbinar menatap lekat padaku Kemudian kau berbalik melemparkan pertanyaan yang sama padaku Apakah aku bahagia dengan hidupku? Mulutku seakan tertutup rapat sekian detik Hingga aku berusaha menjawabmu dengan sebuah senyuman Bukan aku tak bahagia Bukan pula aku sedang

BERKOMPROMI DENGAN ASA

Sewaktu saya duduk di bangku SMP, saya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Kemudian saat duduk di bangku SMA, saya memilih ITB sebagai universitas tujuan untuk mencapai cita-cita saya. Namun, kemudian cita-cita saya mulai berubah saat saya duduk di kelas 3 SMA. Saya mulai tertarik untuk mengambil kuliah Perencanaan Wilayah dan Kota di ITB dan berkeinginan suatu saat untuk menjadi Walikota Solo. Bahkan keinginan tersebut, pernah saya sampaikan di kelas 7Habbits saat saya menjadi mahasiswa baru ITB. Bagi saya, motivasi terbesar saya saat itu adalah “bangun ndeso, bali ndeso” atau “kembali ke daerah asal, untuk membangun daerah asal”. Setelah mulai mengenal dunia kerja praktik, saya mulai membuka pemikiran terhadap dunia kerja pemerintahan di Pusat. Saya pun mulai tertarik untuk membangun awal karir di dunia birokrasi Pusat dan berpikir bahwa untuk menjadi seorang kepala daerah, saya harus memiliki pengetahuan yang komprehensif terkait sistem kerja pemerintahan di Pusat da

JARAK

Jarak menjadi batas kerinduan yang menghampiri pukul 02.48 dini hari Rasanya aku ingin kantuk segera datang menghampiri Tapi entah mengapa dia berjalan begitu lambat kali ini Ah, sial ternyata merindu bukan perkara biasa saja Terkadang aku begitu egois padamu hanya karena aku tak bisa menahan perasaan ingin ada di dekatmu Rasa cemas campur aduk menghantuiku tatkala kulihat notifikasi tanda bahaya datang di tempatmu Kau selalu meyakinkanku bahwa ini adalah panggilanmu tugas yang harus kau emban untuk negara ini Namun seringkali kuhanya menanggapinya dengan keskeptisanku Merasa bahwa mereka tak bisa berlaku semena denganmu Tapi saat kutahu ada yang membutuhkanmu disana Ku belajar menahan egoku mengerti bahwa hidup ini tentang berbagi dan menolong bukan hanya mengejar kebahagiaan kita Tiga minggu sudah kulalui jalanan Jakarta di pagi dan sore hari tanpamu Menyelip diantara mobil-mobil pribadi yang lalu lalang sudah jadi keahlianku kini Mengejar waktu di tengah kemaceta

PERKARA MENJADI DEWASA

Dek, Akhirnya kini tiba waktumu merasakan bagaimana proses berjuang menjadi manusia dewasa Kalau menurut ketentuan negara kita, memang kau sudah terbukti secara legal sebagai manusia dewasa Kau telah mendapatkan identitas kependudukanmu dan kau telah memiliki hak untuk memilih siapa pemimpinmu Namun tahukah kau, perkara menjadi dewasa bukan sekedar sampai disitu Sesungguhnya ada hal yang kini lebih penting untuk membentuk dirimu menjadi manusia dewasa Menentukan pilihan kemana kau akan menapakkan kakimu selanjutnya Kau harus memilih saat ini Memilih mau jadi apa kau nanti Mau kau bawa kemana setiap impianmu Apakah kau memang punya ambisi untuk mengejar mimpimu Jangan sampai kau hanya gantungkan hidupmu pada saran orang lain Bukan mereka yang berkuasa atas hidupmu tapi kau sendiri yang harus paling tahu apa maumu dan kebutuhanmu Aku tak bermaksud mengguruimu karena aku lebih tua Umurku bukanlah indikator yang menunjukkan aku telah menjadi manusia dewasa yang paripurna

SERINGKALI

Seringkali aku datang padaMu Hanya karena hidup dipenuhi dengan berbagai masalah yang pelik Akan tetapi, seringkali aku juga lupa tuk datang Di saat kudengar gema seruan namaMu yang menghimpun kami tuk datang padaMu Seringkali aku berdoa sujud menghadapMu Hanya karena aku telah lelah dengan cemoohan mereka di sekitarku Namun, seringkali pula aku lupa tuk datang Di saat roda hidupku sedang ada di atas awan dengan kumpulan berkat dan rizki yang berlimpah Seringkali dan seringkali, Rinduku padaMu berubah tak menentu Niatku menghadapMu naik turun tak pasti Akan tetapi, seringkali dan seringkali Aku masih saja bisa merasakan setiap berkatMu Merasakan setiap kebaikanMu Mendapatkan bahagiaku Duh, seringkali dan seringkali Aku khilaf dan bertobat Aku luput dan mohon ampun Aku tersesat dan mencari jalan pulang Seringkali dan seringkali Kapan aku bisa mencapai konsistensi?

BERKEHENDAK PADA SATU HAL YANG SAMA

Tulisan ini saya dedikasikan untuk pasangan saya, Choirul Rama Saputra (Irul), sebagai bentuk dukungan dan apresiasi saya terhadap setiap perjuangannya dalam mengejar pendidikan master. Melanjutkan pendidikan S2 mungkin sudah menjadi hal yang wajar bagi generasi muda saat ini di tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Lulusan S1 sudah kian menjamur dimana-mana sehingga aktualisasi diri tidaklah cukup hanya dengan berharap pada pendidikan S1. Terlebih bagi yang ingin mendapatkan promosi karir yang cemerlang, seperti di dunia pemerintahan yang saya dan suami jalani, S2 menjadi salah satu syarat utama untuk bisa mendapatkan kenaikan jabatan. Tapi bagi kami, S2 bukan hanya sebuah kunci untuk mencapai kemapanan karir. Namun, juga mengenai mimpi untuk belajar dan mendapatkan pengalaman hidup lebih banyak lagi, apalagi dengan menjalani S2 di luar negeri. Kami ingin merasakan bagaimana sebagai pasangan muda yang sedang menikmati tahun pertama pernikahan, kami berjuang di negeri orang (

BERHENTI, MENERIMA

Ada kalanya untuk berhenti Berhenti berprasangka Berhenti mencari Berhenti memahami Berhenti kecewa Berhenti melawan Berhenti berteriak Berhenti berpura-pura Berhenti merasakan Hingga yang tersisa hanya Menerima Melangkah ke depan Menyobek kertas yang lama Mengambil kertas kosong dan menuliskan kisah baru pada secarik kertas putih Ya, dan memang sepertinya aku harus melakukannya sekarang Berhenti Menerima

BODOH

Pikiran terombang-ambing Perasaan bergejolak Mencoba memahami ego diri Menaklukan setiap emosi yang berkecamuk Bodoh Aku tak bisa Diri ini dikuasai kebimbangan dan amarah Langkah kaki gontai tuk bertemu kerumunan orang di luar Memaksa diri memakai topeng Bodoh Aku hidup dalam kepura-puraanku hari ini dan bodoh Aku terlalu percaya pada sesuatu yang justru tak dapat dipercaya

AKU PULANG

Ditemani senja Bandung Diantara gerimis air hujan yang mulai membasahi aspal Jalan Dago Aku memutuskan kembali ke rumah Rumah yang terpisah 156 km dari titikku sekarang berdiri Di mana aku dapat melepas letihku pada seorang yang telah menunggu di rumah Perjuanganku hari ini telah usai Entah kapan aku akan kembali disini untuk berjuang Hari ini seseorang membuatku tersadar Di saat tantangan itu datang menghampiriku Untuk merenggangkan jarak antara aku dan mimpiku Apakah aku mau berjuang untuk menghapus jarak? Ataukah kuserahkan saja semua pada takdir yang membawaku? Pertanyaan itu terus menghantui pikiranku malam ini Empat jam perjalanan, mataku hanya tertuju pada kerlip lampu mobil dan truk yang bersliweran di jalan tol Tak kusadari bahkan sebentar lagi aku telah tiba di tempat yang kusebut rumah Aku pulang Aku pulang dengan semangat yang padam Aku pulang dengan harapan yang telah surut Aku pulang dengan tangan kosong Aku pulang membawa seluruh kegelisahan yang in

Bersahabat dengan Jakarta

Ini adalah cerita nyata tentang sebuah kota yang tak pernah tidur Mungkin kau takkan bisa dapatkan dongengmu disini Siang malam, pagi sore Kaum-kaum eksekutif terhanyut pada kesibukan yang sama Menggali pundi-pundi uang untuk dihabiskan di sisa minggu pada deretan tower-tower pusat perbelanjaan yang berjajar di pusat kota dengan gemerlap cahaya kuning pijar menerangi Namun ada satu kisah yang ingin kubagi Mungkin seringkali kau lihat Akan tapi masihkah hatimu merasa bahwa ada perjuangan hidup yang tak pernah berhenti diantara gemerlap metropolitan ini Di saat pagi ku mulai bergegas pergi ke kantor Terjebak dalam kemacetan menjemukan setiap hari Terhimpit diantara proyek megastruktur yang berjajar di selatan kota Ada satu pemandangan yang selalu kutemui Para buruh yang juga telah siap memulai hari Mempertaruhkan nyawa diantara beton-beton yang tergantung di ketinggian mengusahakan cara agar tetap dapat berbagi rizki pada keluarga di kampung Terk